Pelajaran dari Gempa Sumatera

Oleh: Atok Sugiarto

Gempa berkekuatan 8,5 pada skala Richter mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (11/4). Gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer barat daya Simeulue itu membuat warga Aceh panik. Gempa itu mengingatkan kita semua kepada tragedi yang pernah terjadi di Serambi Mekah, delapan tahun lalu.
Kita patut bersyukur gempa kali ini tidak banyak membawa korban jiwa, padahal, getarannya dapat dirasakan hingga Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Pekanbaru, Lampung, dan bahkan luar negeri seperti Thailand, Sri Lanka, dan India.
Yang juga patut dicatat ialah kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi bencana sudah mulai terlihat. Namun tentu saja semua itu tidak boleh membuat kita berpuas diri. Terlebih karena sesungguhnya belum seluruh instrumen kondisi darurat bencana berjalan memuaskan. Seperti beberapa pengakuan masyarakat dalam salah satu tayangan stasiun televisi swasta yang mengatakan sirine tanda tsunami tidak berbunyi, atau alat pendeteksi tsunami rusak.
Dan karena itu hal seperti ini menjadi sesuatu yang seharusnya perlu diusut dan ditindaklanjuti bagaimana laporan-laporan pejabat terkait kepada pemerintah atas tanggap daruratnya jika terjadi bencana yang lebih besar?
Rakyat sudah terlampau lelah dengan persoalan ekonomi, jangan lagi disaat terjadi gempa dan tragedi, masyarakat masih harus berlari-larian tak tahu entah kemana untuk mencari perlindungan dan menyelamatkan jiwa.
Secara nalar, bagi yang tidak mengalami musibah dan bencana memang bisa menginstruksikan berbagai solusi atau tindakan yang harus dilakukan, tetapi bagi yang mengalami, solusi-solusi jika tidak terus dan sering disosialisasikan, yang terjadi tetaplah kepanikan.
Artinya, meskipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan early warning system is working well saat menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron, nyatanya sistem peringatan dini itu masih ada yang tidak bekerja sempurna. Karena itu, alih-alih belajar dari peristiwa ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mencatat dengan cermat ketidaksempurnaan sistem itu dan segera memperbaikinya. BNPB dan badan lain yang memiliki otoritas bidang penanggulangan situasi darurat tidak boleh memberikan toleransi kesalahan dalam situasi darurat karena itu akan berakibat fatal.
Dan karena itu, tiada pilihan bagi kita selain meningkatkan kesiapan, kewaspadaan, dan keterampilan menghadapi bencana.
***
Belum surut air laut pasang (rob) dimana-mana, banjir rutin karena hujan, juga belum rampung masalah lumpur Lapindo. Indonesia kembali diguncang gempa dahsyat. Dan sepertinya tidak ada yang bisa disalahkan, jika berpijak pada pengertian semua ini adalah bencana alam.
Satu hal yang benar-benar sering membuat ironis, sementara saudara-saudara kita sedang terkena musibah, yang terlihat malah banyak orang yang datang membawa anak istri, berbondong-bondong menuju lokasi hanya untuk menonton. Seperti komentar seorang pengunjung yang diwawancarai sebuah stasiun televisi “Saya penasaran, jadi langsung datang kemari pengen melihat langsung”.  Sungguh memalukan.
Tragedi dan bencana dijadikan tontonan. Lebih menyakitkan lagi kalau dilihat dari busana mereka-mereka yang datang, rapih dan necis. Lebih mirip orang yang mau pelesiran. Sungguh kontras. Mungkin saja ini su’udzon, karena bisa saja mereka pejabat yang memang sedang bertugas ke titik kegiatan. Tapi mengapa pakaiannya seperti tidak pas sama sekali?
Terakhir diantara musibah dan bencana, sering terlihat ada bendera-bendara partai, bahkan ada spanduk bertuliskan ”posko bantuan bencana partai …”. Sungguh keterlaluan.
Ditengah gempa, musibah dan tragedi, masih ada saja yang tega berdiri diatasnya dan memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, golongan bahkan seperti kepentingan perolehan suara, menggalang masa.
Bahwa semakin banyak yang tidak mau kehilangan akan moment dari sebuah tragedi, adalah keprihatinan yang baik. Tetapi sebaiknya jangan cemari keprihatinan untuk tebar pesona – memanfaatkan pengaruh terhadap suatu musibah dengan dalih memberi bantuan. Karena yang demikian itu adalah pahlawan kesiangan, yang hanya tanggap terhadap kesusahan orang lain dengan embel-embel.
Saya pribadi, dengan perasaan prihatin terhadap setiap bencana, hanya ingin berperan serta dalam himbauan dan mengingatkan. Janganlah kita berdiri di atas suatu musibah dan bencana untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Karena rakyat sebenarnya sudah cukup bijak menyikapi permasalahan yang terjadi. Kalau ingin membantu, bantulah dengan ikhlas, tak perlu embel-embel bendera atau sejenisnya. Karena sesungguhnya keihklasan anda halal bagi penerima.
Sesungguhnya gempa, tragedi dan bencana sama halnya dengan anugerah. Datang atas kehendakNya. Kita semua sebagai manusia wajib tabah bila mengalami, karena sesungguhnya gempa, musibah atau tragedi hanyalah cambuk kecil agar kita semua menjadi sadar dan selalu berusaha membuat Sang Pencipta tersenyum…

Posted on April 23, 2012, in Renungan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: