Ahmad Barata (Thonik), Pimpinan Korwil FBR Kab Tangerang/Tangsel: Gardu FBR Harus Berdiri di Tiap Kelurahan Desa se-Tangsel

Bila di Tangsel (Tangerang Selatan) ada 54 kelurahan/desa, maka sebenarnya setiap kelurahan/desa bisa didirikan satu Gardu FBR (Forum Betawi Rembug), kata bang Thonik, 35, nama panggilan akrab buat bang Ahmad Barata bin H Saman Pladen Pondokkarya Pondokaren Tangsel kepada wartawan di kediamanya.
Maksud bang Thonik menggulirkan aspirasi semacam ini supaya setiap insan FBR yang potensial diizinkan membuka Gardu FBR baru di kelurahan mereka masing-masing. Menurutnya jangan sampai satu Gardu FBR justru menguasai lahan sampai 2 atau bahkan 3 kelurahan. Karena dikhawatirkan kalau sebuah gardu yang terdiri dari 3-11 pos itu memegang wilayah sampai lebih dari 2 kelurahan. Keinginan Korwil Kab Tangerang dan Tangsel ini dapat difahami, apalagi pengguliran izin ini sesuai AD/ART dan maklumat Kiai FBR baik oleh semasa Almarhum KH Moh Fadloli Elmuhir mau pun Kiai H Luthfi Hakim MA, 42, belum lama ini. Agar tiap kelurahan berupaya membuka satu gardu FBR dengan beberapa pos.
Tujuan yang lain kenapa setiap insan FBR di mana pun berada khususnya yang ada di Kabupaten Tangerang dan Tangsel (54 kelurahan/desa) mampu mendirikan Gardu FBR adalah agar mereka di masing-masing wilayahnya bisa menikmati hasil pembangunan yang pesat ini di Tangsel dan Kab Tangerang. Sehingga tak akan timbul kesan satu Gardu FBR bisa menguasai dan menikmati hasil pembangunan di luar wilayah kelurahannya sendiri.
Di samping itu pula karena Kiai Lutfi Hakim MA, termasuk setiap Pimpinan Korwil menginginkan FBR makin tersebar di setiap jengkal tanah (kelurahan). Karena memang akar massa berada di kelurahan (RW dan RT). Dan, bila FBR telah resmi dibuka di tiap kelurahan (54 Kelurahan/Desa) se-Tangsel, apalagi se-Kab Tangerang, bukankah kharisma, eksistensi, dan wibawa serta keberadaan FBR kian kuat? Kalau FBR sudah kuat, solid dan mapan di sana, bukankah akan mudah pimpinan FBR menggerakkan massa FBR bila diperlukan? Misal untuk penggalangan massa pemilihan Caleg (Calon Legislatif), pemilihan Walikota dan Gubernur dan lain sebagainya, sehingga akhirnya orang-orang FBR akan lebih mudah menjadi anggota dewan di Tangsel dan di Kab Tangerang empat tahun mendatang (Pemilu 2014)?
Memang, sekiranya tiap kelurahan punya satu Gardu FBR dan 3-10 pos, bukankah FBR makin besar saja? Karena tiap gardu diwajibkan memiliki 100 anggota ber-KTA dulu, dan tiap pos terdiri dari 20-30 anggota ber-KTA? Menurut Thonik, kalau anggota cepat punya KTA (Kartu Tanda Anggota), mereka harus bersedia menyertakan formulir keanggotaan mereka dengan infak/administrasi Rp20 ribu buat didistribusikan kas Korwil dan PP FBR, karena dana terkumpul dari formulir anggota itu akan didistribusikan kembali kepada fakir miskin dan anak-anak yatim Pesantren FBR di Klender Jaktim. Bila infak administrasi Rp20 ribu macet, bagaimana formulir bisa naik ke PP FBR untuk ditandatangani dan disahkan Kiai? demikian retorika Thonik.
(rahmatullah hmha rasyid)

Posted on April 24, 2012, in Jabodetabek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: